Selasa, 24 Februari 2015
tak akan hilang
karang tak akan hilang dihempas ombak
hanya akan luruh seiring datangnya bulan
hingga suatu waktu akan bersua
dengan butir pasir di kejauhan
awan tak akan hilang disapu hujan
hanya akan merintik seiring turunnya gerimis
hingga suatu waktu akan menetes
di genting rumah dan rerantingan
kayu tak akan hilang dimakan api
hanya akan menyisakan sedikit gemeretak
hingga suatu saat menjadi abu
terbawa angin yang datang dan pergi
selasa, 3 februari 2015
Rabu, 07 Januari 2015
Monolog Kecil Untukmu
Kamis, 8 agustus 2014, 01:45
Sebuah kata menunggu dalam relung rindu. Tak
tahukah kau? Kemana akan kembali berpulang rasa tersebut? Hanya ada kata yang tersimpan
dalam dasarnya perasaan yang tak tersampaikan, sebagai sebuah potongan hidup
yang terpilih dari berseraknya mozaik-mozaik yang telah dilangkahi. Akankah kita kembali?
Kepada kenangan yang berpendar dalam remangnya bulan, menunggu pelukan yang
sama atas jawaban yang sama, atau sebuah kerling yang menjawab segalanya.
Pepatah tak akan pernah salah bagi kita yang memepercayai benang takdir,
selalu akan terus terhubung dalam kepastian karena kepercayaan adalah pengikat
sejati baginya.
Sedang apa kau dalam mimpimu? Tanya sepi yang
mengarungi dinginnya malam. Kerana aku tak tahu selain desing kipas usang yang membasahi ruang
juga hati yang berdebar dalam masa yang ditunggu. 6 tahun sudah, kini ganjil
telah tergenapkan, namun rasa tetap tak terucapkan. Apakah kau akan menerima
jika ketidakpastian dijadikan kambing hitam? Semoga…..
Malam makin panjang, jadi gila kerana kubicara
pada papan ketik yang berirama sepotong-sepotong seumpama lagu ini, the ballade pour adelaine kan kah kau
suka? Hahaha. Seumpama kau yang terus menangis dalam relung rembulan, tak
pernah dapat kusentuh, selain hampa yang kudapat. Aku memang tak berani, bagimu
terutama bagiku yang memang tak akan berani bikin janji. Ketidak pastian itu
temanku bukan?
Sepanjang masa yang telah terlewat, semoga
lekas, kita akan kembali berbicara kepada mentari sebagaimana yang kerap
terbayangkan. Sudikah kau? Pertanyaaan yang tek pernah dapat terjawab lagi
sekarang. Semoga,dan semoga lah yang selalu akan kuucapkan padamu untuk hari
depan, ketika kita tak tahu siapakah dan untuk apakah saling memiliki itu.
Monolog kecil inilah tempat kata bisa mengalir
begitu saja, putri embunku. Tak ada yang meminta, kecuali hasrat untuk
berbicara. Tak ada yang mendengar, kecuali sunyinya malam berbintang. Tak ada
yang melihat, kecuali mata sayu akan harapan dan Yang Melidunginya. Semoga.
Selamat berbaring kembali dalam tidurmu, semoga malam tak akan memudar cerahnya
kala melihatmu menutup mata, memilingkan indahnya gemintang saat ini kepada mimpimu,
membiarkan bulan yang menyauhkan mimpiku kepada bunga-bunga dalam tidurmu. Selamat malam.
Rabu, 24 Desember 2014
Di Rumah Sendiri Saja
Hujan turun perlahan menjadi rintik dan tempias. Kilaunya terhalang atap condong dari gipsum yang bolong dipermainkan takdir kucing-kucing jalanan. Lampu 25 watt adalah penerangan selain monitor yang menyalakan layar tempat pengaduan dosa, derita, cinta. Kala moksa menjadi samsara bagi kehidupan yang dijalan, menyeret moral yang menipis, seiring hujan yang jadi gerimis. pengakuan kecil ditunjukkan bagi alam semesta yang beratapkan gipsum dan takdir silang-menyilang terpungkur di dengkur kucing jalanan.
Senin, 14 Juli 2014
Cerita Masa Lalu
menangisi tiap masa yang berlalu
dalam dekap sang waktu
yang tak lelah selalu melaju
tapi tak pernah menunggu
ketika kita tahu
akan untai yang mendayu
dari denting senar yang melagu
mengawang hingga batas alu
lampau kecil yang dahulu
ingatan akan kenangan indah aku
tempat kita bertemu
dalam batas yang tak jemu
kecil sudah hilang kaku
dalam hangat mentari menyapu
membias panas hangantkan baju
basah oleh senyum dan pilu
ingat, ingatlah aku
yang kini terduduk
kaku
menatap kosong papan berdebu
tergores cerita canda lalu
jalan tua aspal abu
langit yang tak lagi biru
sahut – sahut yang saling menyeru
letus senapan dan senyum yang beku
tak terbalas surat yang lalu
bukanlah karena enggan atau malu
namun ombak memendam karang berbatu
di tengah laut arafuru
Langganan:
Postingan (Atom)