Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

Rindu



Rindu       kerap dituliskan lewat kata-kata yang segaja tak dialamatkan
karena      terlalu banyak kehedak yang disampaikan
terlalu       bayak waktu yang diluangkan
banyak        pikiran yang dituangkan
Perasaan        yang disematkan
yang                 ditumbuhkan
Bersemai

Jumat, 15 Mei 2015

sekadar kenang


teruntuk J

malam masih menyisakan wajahmu
di ambang mataku
kala senja telah lama tertidur

mungkin akan kau mengerti
diamku bertanda cinta
peduliku kau berbahgia
walau yang kupunya
hambarnya tawa

maka akan ku lekaskan
perjalanan panjang menuju kebebasan
hingga saat fajar menyingsing
air mata telah mengering

bersama sepucuk surat
cintaku

Selasa, 21 April 2015

Penantian


aku mencari jiwa dimatamu
entah kerling keberapa yang kutilik
kubuka dan kuculik
untuk kudekap dalam mimpi

aku mencari cahya di senyummu
kala bulan malu kerana sinarnya
dan bintang merindu tiap kilaunya
di ujung senja
atau pematang fajar

karena kau adalah jiwaku
yang kubawa kumamah sehari-hari
dalam tiap jenak yang mungkin berarti
kala masa sudah abadi

kutunggu kau di perbatasan nanti

Selasa, 24 Februari 2015

tak akan hilang




karang tak akan hilang dihempas ombak
hanya akan luruh seiring datangnya bulan
hingga suatu waktu akan bersua
dengan butir pasir di kejauhan

awan tak akan hilang disapu hujan
hanya akan merintik seiring turunnya gerimis
hingga suatu waktu akan menetes
di genting rumah dan rerantingan

kayu tak akan hilang dimakan api
hanya akan menyisakan sedikit gemeretak
hingga suatu saat menjadi abu
terbawa angin yang datang dan pergi

selasa, 3 februari 2015

Rabu, 24 Desember 2014

tempias hujan
atap berdenting pelan
tiada reda

jantung tersemat
belantara niskala
hidupan jati

menatap jauh
sosok pelabuhan
desau ke barat

langkahan sepi
kecipak genangan
merindu bulan

Senin, 14 Juli 2014

Cerita Masa Lalu


menangisi tiap masa yang berlalu
dalam dekap sang waktu
yang tak lelah selalu melaju
tapi tak pernah menunggu

ketika kita tahu
akan untai yang mendayu
dari denting senar yang melagu
mengawang hingga batas alu

lampau kecil yang dahulu
ingatan akan kenangan indah aku
tempat kita bertemu
dalam batas yang tak jemu

kecil sudah hilang kaku
dalam hangat mentari menyapu
membias panas hangantkan baju
basah oleh senyum dan pilu

ingat, ingatlah aku
yang kini terduduk  kaku
menatap kosong papan berdebu
tergores cerita canda lalu

jalan tua aspal abu
langit yang tak lagi biru
sahut – sahut yang saling menyeru
letus senapan dan senyum yang beku

tak terbalas surat yang lalu
bukanlah karena enggan atau malu
namun ombak memendam karang berbatu
di tengah laut arafuru

Rindu Kekang



teruntuk kenangan manis
ketika mentari benderang terang
langit biru tersapu awan
teringat akan sosok digores arang
yang tak lelah ku rindukan

6 tahun rasanya tak berkekang
terlepas oleh untaian kata berhiaskan
nada-nada harap yang selalu berdendang
di hati para pendamba bulan

bolehkah aku menerawang
indah cahaya lampu taman
ditabur berjuta bintang
dalam rindu dan harapan

menunggu waktu untuk pulang
kembali pada hangatnya sebuah dekapan
cerita yang selalu berkenang
bersemayam dalam cinta dan persahabatan

biarlah kukirimkan puisi ini pada gugusan bintang
selalu temani tiap untaian
gores kata dalam terang
jauh dipangkuan rembulan

biarkanlah waktu yang menjadi pengarang
sejarah indah pilu di rantauan
burung merpati yang terbang berpasang
tanamkan janji yang takkan lekang

d

Surat Basah


Menangisi tiap masa yang berlalu
Dalam dekap sang waktu
Yang tak lelah selalu melaju
Tapi tak pernah menunggu

Ketika kita tahu
Akan untai yang mendayu
Dari denting senar yang melagu
Mengawang hingga batas alu

Lampau kecil yang dahulu
Ingatan akan kenangan indah aku
Tempat kita bertemu
Dalam batas yang tak jemu

Kecil sudah hilang kaku
Dalam hangat mentari menyapu
Membias panas hangantkan baju
Basah oleh senyum dan pilu

Ingat, ingatlah aku
Yang kini terduduk  kaku
Menatap kosong papan berdebu
Tergores cerita canda lalu

Jalan tua aspal abu
Langit yang tak lagi biru
Sahut – sahut yang saling menyeru
Letus senapan dan senyum yang beku

Tak terbalas surat yang lalu
Bukanlah karena enggan atau malu
Karena ombak memendam karang berbatu
Di tengah laut arafuru

Selasa, 17 Desember 2013

Janji Sepi






Ini ikrar
Dari si pelancong negri jalanan
Menjejak kai di batas patas
Gemericing kecrekan
Itu lagu indah, namun sumbang

Ini janji
Aku dan mereka melayang di kegelapan malam
Menantang tegak dan terik kehidupan
Untuk peradaban
Untuk kemanusiaan

Perih tak terkejar bagi si kancil
Lesat panah lompati tebu
Ladang ilalang, gunung, sungai dan batu-batu
Saksi bagiku dan mereka yang melayang di kegelapan malam