Sabtu, 08 Juni 2013

pewaris negri itu bukan mereka

yang mengais yang terluka, sepantasnya
yang menangis yang meradang, sepatutnya
dan kini untukmu
sebuah kisah padang lalu

tersebutlah sebuah negri
ditengah badai yang diarunginya
didayung ratusan kuli-kuli berdaki
yang berjas menatap dari bangku kehormatan

tersebutlah sebuah bangsa
dipalu diukir tetap tak berpunya
ratusan bahkan ribuan jadi tukang
yang didasi yang dipinggir dipayung mikrofon
nama lain setan kecil sepegangan tangan

hancur dicampur kuli dan tukang
bertumbuk bertarung demi kesetiaan tuan
yang berdasi yang berjas ada dipinggiran
bersulang bersama kaum baru yang berstelan

mereka mati siapa yang tahu?
pejabat mati siapa yang tak mau?
potret layang-layang putus hilang jejaknyakah?
diganti bayang-bayang keputus asaan

jejak tak berlicak jadi stempel perubahan
maaf pujangga tak bisa terima
pengembara  tak bisa ikut angkat tuak
pemuda tak bisa ikut ambil kiat
kecuali bermuka masam dan buang berak

Jumat, 07 Juni 2013

cintaku pada ibu pertiwi II

kembali kepada waktu pagi
ditingkah cermai burung gereja
mengicaukan kepastian janji
kehidupan di pohon cemara

harga diri ialah harga mati
bagi setiap kepak di tepi khatulistiwa
juga ufuk cita-cita berperi
kesatuan kesadaran bersama

safar berlabuh jauh
ditengahnya ombak prahara
cinta berpeluh sauh
ibu pertiwi tempat semua bermula

bermuka-muka datang menjemputku
yang terbaring dibalik punggungmu

cintaku pada ibu pertiwi

berkalung senja diliput debu
sepi mengahadang, jalan merintang
sedang purnama muncul malu-malu
kembali pada fajar di pandang

meluput diri bercampur sepi
diam-diam terlungkup sekam
habis sudah tiap peri-peri
tak berarti pancasila jika diam

kitalah para pencari waktu
berjaga demi malam berbintang
berpijak kepastian wajah-wajah sendu
hilang pula lagak bangkong yang beruang

berpilin pada waktu
menghabiskan komentar pilu
diradio, ditivi, teronggok bau
politisi bicara, rakyat tertunduk malu

reformasi bukan sekadar angan
tapi nafas bagi sebuah perjuangan