yang mengais yang terluka, sepantasnya
yang menangis yang meradang, sepatutnya
dan kini untukmu
sebuah kisah padang lalu
tersebutlah sebuah negri
ditengah badai yang diarunginya
didayung ratusan kuli-kuli berdaki
yang berjas menatap dari bangku kehormatan
tersebutlah sebuah bangsa
dipalu diukir tetap tak berpunya
ratusan bahkan ribuan jadi tukang
yang didasi yang dipinggir dipayung mikrofon
nama lain setan kecil sepegangan tangan
hancur dicampur kuli dan tukang
bertumbuk bertarung demi kesetiaan tuan
yang berdasi yang berjas ada dipinggiran
bersulang bersama kaum baru yang berstelan
mereka mati siapa yang tahu?
pejabat mati siapa yang tak mau?
potret layang-layang putus hilang jejaknyakah?
diganti bayang-bayang keputus asaan
jejak tak berlicak jadi stempel perubahan
maaf pujangga tak bisa terima
pengembara tak bisa ikut angkat tuak
pemuda tak bisa ikut ambil kiat
kecuali bermuka masam dan buang berak
yang menangis yang meradang, sepatutnya
dan kini untukmu
sebuah kisah padang lalu
tersebutlah sebuah negri
ditengah badai yang diarunginya
didayung ratusan kuli-kuli berdaki
yang berjas menatap dari bangku kehormatan
tersebutlah sebuah bangsa
dipalu diukir tetap tak berpunya
ratusan bahkan ribuan jadi tukang
yang didasi yang dipinggir dipayung mikrofon
nama lain setan kecil sepegangan tangan
hancur dicampur kuli dan tukang
bertumbuk bertarung demi kesetiaan tuan
yang berdasi yang berjas ada dipinggiran
bersulang bersama kaum baru yang berstelan
mereka mati siapa yang tahu?
pejabat mati siapa yang tak mau?
potret layang-layang putus hilang jejaknyakah?
diganti bayang-bayang keputus asaan
jejak tak berlicak jadi stempel perubahan
maaf pujangga tak bisa terima
pengembara tak bisa ikut angkat tuak
pemuda tak bisa ikut ambil kiat
kecuali bermuka masam dan buang berak