ku tak tahu bilamana dia datang
menyergap dalam debu dan peluh yang berderap
menunggu letusan senapan hening malam
dan mata yang menyalang
beribu laut ku lewati
menebas jarak antara urat nadi
dalam gelombang dan desir angin lalu
menulis surat untuk para purnama
menunggu kata dalam sukma
tempat ku bertapa dalam wibawa
tanpa kata sarat makna
jauh dalam tempa aku berdo'a
simpuh diri dalam satu
menghamba kepada yang abadi
memohon lauatan ridho dan restu
pada pemilik jiwa dan ratap
memanggil lagi aku
kembali pada pangkuan ibu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar