ku tak tahu bilamana dia datang
menyergap dalam debu dan peluh yang berderap
menunggu letusan senapan hening malam
dan mata yang menyalang
beribu laut ku lewati
menebas jarak antara urat nadi
dalam gelombang dan desir angin lalu
menulis surat untuk para purnama
menunggu kata dalam sukma
tempat ku bertapa dalam wibawa
tanpa kata sarat makna
jauh dalam tempa aku berdo'a
simpuh diri dalam satu
menghamba kepada yang abadi
memohon lauatan ridho dan restu
pada pemilik jiwa dan ratap
memanggil lagi aku
kembali pada pangkuan ibu
Minggu, 13 Januari 2013
Selasa, 01 Januari 2013
Mencoba Kembali Mengingat
ku tak tahu kemana langkah akan ku buat
dalam liku kelokan demi kelokan
labirin yang dalam terpendam
dalam sebuah kenangan
dimana ku berharap pada sebuah bintang
di tengah gelapnya malam
memanjatkan sebuah harapan
tentang cinta
ku tahu semua akan berubah
dalam kerlip dan kejap masa
melewatiku tanpa permisi
yang terpaku didepan sana
depan bangku itu
akankah ku berdiri disini selamanya
bersamamu yang kuharap selalu
dalam indah dan permai malam
hati yang berkata padaku
memohon kehalusan budi
dalam pernak-perniknya
mencoba lebih kuat
birlah kueratkan
pilihan demi jiwa yang meronta
menggapai bayangan kabur
fatamorgana
dimana jiwa mengiyakan
walau akal menolak
biarlah ku nikmati kembali
derap kuda yang makin jauh
dari bayang dan telinga
menunggu
kembali menunggu
walau tak sepasti bintang ynag kini ku tilik
percayalah bahwa ku yakin
sesuatu yang terbaik
dalam lagu dan dawai sendu
sebuah senyum yang dahulu ku impi
dalam terang hangatnya mentari
dan sebuah langkah pasti
pasti, pasti akan tiba
dalam alunan musik yang mulai tenggelam
dibalik kabut yang mulai menghilnag
dan tawa yang mengakhiri airmata
Pendekar Tanah
kutuklah ketakutan
yang telah engkau besar-besarkan
kuharap kau pijakan
disulam dalam paluan
mengusir semua pertanyaan
berpikir habiskan zaman
tangan hanya butuh kepalan
kaki hanya butuh sentakan
tak perlu ke peratapaan
jalan yang telah digariskan
alur pun dicanangkan
tak usah beralasan
masih panjang perjalanan
Pendekar Lautan Suci
tempalah diriku
kularik sampai kelu
WAHAI DIRI!
telah hina kau dalam debu
dan mimpi yang semu
buai yang jemu
senang tertipu
HAI KALBU!
kau berharap pada dawai yang mendayu
menghirup cudah banggalah selalu
atas semua kebodohanmu!
tak erlu aneh nanti melihatmu
dipinggir jalan tak berbaju
apakah kau tak malu?
pada diri dan Allah Yang Maha Tahu?
Pembuka
heran ku memang dibuatnya
lika-liku tanda tanya
akan diriku semata
tak logis tapi benar adanya
dulu lisan berkata
jalanku jalan naga
yang dilalui para syuhada
dan legenda di medan laga
namun kiniku apa?
habur, abu, buta
salah satu dari para nestapa
tak ada lagi bermajas kata
kumohon kau dalam do'a
akan garis seribu cerita
Pendekar Angin
kucari kau ditengah remang
sepi memang
karena sunyi buatku meradang
pada kukungan besi sejuta batang
ingatkanlah aku pandang
yang gelap dan berbintang
yang melayangmengalirkan darah perang
peluh kurengkuh sedang
nyawa kutukar pedang
kuharap bukan buai awang
atau hanya terawang
karena waktu yang berbilang
tak menunggu aku pulang
dari mimpi dihari siang
Langganan:
Komentar (Atom)