kini biarlah aku menulis dengan apa adanya, mewajahkan muram kepada layar tempat huruf berebut tempat untuk bisa mencium titik. aku kini membuka diriku, padamu, yang bersedia membaca sekadar peringatan dari dalam jiwa.
sungguh aku sudah lelah
segala saling mengejar, segala saling menyelisih, memaki lalu memaksa untuk meruak ke dalam-dalam jiwa. aku kira yang kubutuhkan hanyalah suatu keheningan dimana aku dapat menulis dengan sesuka hati, mendengarkan suara-suara yang selama ini terabaikan oleh rutinitas sehari-hari. namun aku terbentur, lagi-lagi, oleh rintang yang sama. seolah membayang jadi beribu di mata.
apakah ini hidup ?
kalau memang harus membagi kepastian dengan bayang, wajah dengan kemunafikan yang tak pernah diharapkan oleh manusia-manusia sekalian. karena airmata adalah pelarian bagi jiwa yang sudah lelah, sudah pasrah dengan keadaan. sudah menyerah pada harapan. sudah membuang jauh sauh kepada dermaga yang tak pernah diingini sekalipun
harapan yang makin kabur
seiring dengan hilangnya pandang, menuanya pikiran di dalam benak tempat nurani bersemayam, tempat jiwa memoroskan dirinya. aku mematut diriku pada kalimat-kalimat yang sudah lama aku tulis, benarkah keadaan jiwaku dulu sebagaimna itu? sulit untuk memercayainya walau memang benar tulisan adalah jendela hati
pendarnya semakin pudar
walau hanya tersisa kekosongan yang besar, lubang hitam yang tak berujung. memutus segala urat kenangan dan hal-hal yang berharga demi ukiran angka semata. gelap, jauh, seolah tak ada lagi tujuan yang dapat dipegang dan dijadikan batu pijakan, untuk digenggam erat selama perjalanan.
mungkin sampai aku menemukanmu. kembali.
sungguh aku sudah lelah
segala saling mengejar, segala saling menyelisih, memaki lalu memaksa untuk meruak ke dalam-dalam jiwa. aku kira yang kubutuhkan hanyalah suatu keheningan dimana aku dapat menulis dengan sesuka hati, mendengarkan suara-suara yang selama ini terabaikan oleh rutinitas sehari-hari. namun aku terbentur, lagi-lagi, oleh rintang yang sama. seolah membayang jadi beribu di mata.
apakah ini hidup ?
kalau memang harus membagi kepastian dengan bayang, wajah dengan kemunafikan yang tak pernah diharapkan oleh manusia-manusia sekalian. karena airmata adalah pelarian bagi jiwa yang sudah lelah, sudah pasrah dengan keadaan. sudah menyerah pada harapan. sudah membuang jauh sauh kepada dermaga yang tak pernah diingini sekalipun
harapan yang makin kabur
seiring dengan hilangnya pandang, menuanya pikiran di dalam benak tempat nurani bersemayam, tempat jiwa memoroskan dirinya. aku mematut diriku pada kalimat-kalimat yang sudah lama aku tulis, benarkah keadaan jiwaku dulu sebagaimna itu? sulit untuk memercayainya walau memang benar tulisan adalah jendela hati
pendarnya semakin pudar
walau hanya tersisa kekosongan yang besar, lubang hitam yang tak berujung. memutus segala urat kenangan dan hal-hal yang berharga demi ukiran angka semata. gelap, jauh, seolah tak ada lagi tujuan yang dapat dipegang dan dijadikan batu pijakan, untuk digenggam erat selama perjalanan.
mungkin sampai aku menemukanmu. kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar