Tahukah kau, bahwa aku selalu senang dengan kehadiranmu?
Tahukah kau, bahwa aku selalu mengaharapkan senyummu?
Tahukah kau, bahwa aku selalu menginginkan kebahagiaan atas
dirimu?
Tahukah kau, bahwa aku menyebutkan namamu dalam doaku?
Dan tahukah kau apa isi doaku?
“Ya allah, hilangkankanlah perasaan ini untuk sementara,
bukan karena hamba membencinya, tapi karena hamba sangat mencintainya, dan
hamba tak ingin cinta ini melukai kami berdua”
Tahukah kau, bahwa aku merindukan celoteh panjangmu di tiap
obrolan?
Walaupun itu hanya tulisan, bahkan sekedar desah nafaspun
tak akan terdengar
Dan 3 tahun telah kulewati tanpa mendengar suaramu?
Tapi ku bersabar, kuberdoa…
Dan berterima kasih padamu yang membiarkan perasaan ini
tumbuh, walau kau tak menyadarinya
………….
Tahukah kau, aku merasa bahwa kita ini banyak persamaan?
Begitu pula perbedaannya, karena itu aku senang berbicara
denganmu
Walaupun lewat tulisan, bukan suara
Yang bahkan desah nafas pun tak akan ter dengar
Tahukah kau, aku ikut bersedih ketika kau gagal mencapai
mimpimu?
Padahal mimpi kita sama, untuk mencapai tujuan yang sama
Turut tersapu pula mimpiku, untuk melihat tawamu
Yang sudah 3 tahun ku tak melihatnya
Tahukah kau, bahwa aku punya pengharapan padamu?
Tak tahu waktunya, mungkin 10 atau 20 tahun lagi
Ketika aku datang mengetuk pintu rumahmu
Bukan untuk bertemu denganmu, tapi untuk bertemu dengan
ayahmu
Dan melamarmu
Karena itu aku bersabar, dan menunggu menjadi pekerjaan yang
kusenangi
Dan aku pun mengharapkan kau bisa bersabar, karena tak semua
mimpi bisa kita capai
Kita yang berusaha, Allah yang menentukan