tempias hujan
atap berdenting pelan
tiada reda
jantung tersemat
belantara niskala
hidupan jati
menatap jauh
sosok pelabuhan
desau ke barat
langkahan sepi
kecipak genangan
merindu bulan
Rabu, 24 Desember 2014
Di Rumah Sendiri Saja
Hujan turun perlahan menjadi rintik dan tempias. Kilaunya terhalang atap condong dari gipsum yang bolong dipermainkan takdir kucing-kucing jalanan. Lampu 25 watt adalah penerangan selain monitor yang menyalakan layar tempat pengaduan dosa, derita, cinta. Kala moksa menjadi samsara bagi kehidupan yang dijalan, menyeret moral yang menipis, seiring hujan yang jadi gerimis. pengakuan kecil ditunjukkan bagi alam semesta yang beratapkan gipsum dan takdir silang-menyilang terpungkur di dengkur kucing jalanan.
Langganan:
Komentar (Atom)