Senin, 14 Juli 2014

Cerita Masa Lalu


menangisi tiap masa yang berlalu
dalam dekap sang waktu
yang tak lelah selalu melaju
tapi tak pernah menunggu

ketika kita tahu
akan untai yang mendayu
dari denting senar yang melagu
mengawang hingga batas alu

lampau kecil yang dahulu
ingatan akan kenangan indah aku
tempat kita bertemu
dalam batas yang tak jemu

kecil sudah hilang kaku
dalam hangat mentari menyapu
membias panas hangantkan baju
basah oleh senyum dan pilu

ingat, ingatlah aku
yang kini terduduk  kaku
menatap kosong papan berdebu
tergores cerita canda lalu

jalan tua aspal abu
langit yang tak lagi biru
sahut – sahut yang saling menyeru
letus senapan dan senyum yang beku

tak terbalas surat yang lalu
bukanlah karena enggan atau malu
namun ombak memendam karang berbatu
di tengah laut arafuru

Rindu Kekang



teruntuk kenangan manis
ketika mentari benderang terang
langit biru tersapu awan
teringat akan sosok digores arang
yang tak lelah ku rindukan

6 tahun rasanya tak berkekang
terlepas oleh untaian kata berhiaskan
nada-nada harap yang selalu berdendang
di hati para pendamba bulan

bolehkah aku menerawang
indah cahaya lampu taman
ditabur berjuta bintang
dalam rindu dan harapan

menunggu waktu untuk pulang
kembali pada hangatnya sebuah dekapan
cerita yang selalu berkenang
bersemayam dalam cinta dan persahabatan

biarlah kukirimkan puisi ini pada gugusan bintang
selalu temani tiap untaian
gores kata dalam terang
jauh dipangkuan rembulan

biarkanlah waktu yang menjadi pengarang
sejarah indah pilu di rantauan
burung merpati yang terbang berpasang
tanamkan janji yang takkan lekang

d

Surat Basah


Menangisi tiap masa yang berlalu
Dalam dekap sang waktu
Yang tak lelah selalu melaju
Tapi tak pernah menunggu

Ketika kita tahu
Akan untai yang mendayu
Dari denting senar yang melagu
Mengawang hingga batas alu

Lampau kecil yang dahulu
Ingatan akan kenangan indah aku
Tempat kita bertemu
Dalam batas yang tak jemu

Kecil sudah hilang kaku
Dalam hangat mentari menyapu
Membias panas hangantkan baju
Basah oleh senyum dan pilu

Ingat, ingatlah aku
Yang kini terduduk  kaku
Menatap kosong papan berdebu
Tergores cerita canda lalu

Jalan tua aspal abu
Langit yang tak lagi biru
Sahut – sahut yang saling menyeru
Letus senapan dan senyum yang beku

Tak terbalas surat yang lalu
Bukanlah karena enggan atau malu
Karena ombak memendam karang berbatu
Di tengah laut arafuru