Senin, 31 Desember 2012

Cerita Kami



cahaya terang menyilaukanku dalam bintang gemintang
fajar tak lagi sungkan untuk buka dunia
hapus luruh senja membuka tawa riang
dalam pipi-pipi kemerahan dan mata jenaka

dunia kami tak terbatas ufuk disana
melebihi garis putih yang membatas timur dan barat
menanti debu dalam dingin hujan basahi pendapa
menadah tangan melihat tetes air yang mulai mengurat

kami tidak memaksa apa yang ada
mencoba menemukan celah dalam hiburan belaka
mencari kata menyulam emas dalam gambar kereta
pada batik yang dikenakan para petinggi negara

cukuplah bagi kami hati yang riang
tak usah bayak kata yang tak perlu
ataupun harta yang menggunung dipenuhi uang
celana pendek, selimut spanduk, pula tak berbaju

cukuplah bagi kami tawa senang
tak perlu di kotori dengan hal yang tak perlu
tubuh kami sudah kotor dengan hal yang kau karang
rentah tubuh hati jiwa kami yang terbelenggu

tak selamanya yang terlihat sebenarnya
adalah yang terungkap dalam tidur panjang
yang terjadi dalam nada-nada
kemayaan riang

kemayaan riang di ufuk senja
tempat kami bermain riang jenaka
penuh kata dan tawa canda
melupakan pidato kampanye yang lama-lama 


Senin, 24 Desember 2012

Negri Sekarat



berandai kata mengawang
pelangi diatas bingung menyilang
terang malam tiada berbintang
dan sepotong hati dalam kerlipan arang

kankah kau dengar genderang
bertalukan mimpi di negri sebrang
merasa iri diri tak jua bertandang
melepas rasa yang mengufuk mengarang

lintang utara gemerlap sudah
tiada berkata walau sepatah
karena tak pula kita bertitah
bertelanjang kaki di pematang sawah

palu rangkap parang diangkat
memohon jiwa segera sekarat
atas jabatan dan emas beribu karat
teriakan yang mengalun lambat
menjadi cepat
lalu dialat
tiada orang berani meralat
cukup sudah semua alamat
terang jiwa bagi permata erat
pegang teguh melintas selat
atas mimpi
dan sebuah janji
merdeka!

Yang Belum Pergi dan Disesali


bolehkah aku berontak
dari kekang yang memaksa
tertunduk diam menjadi budak
berakhir patik dalam moksa

terakhir patik lihat engkau
dalam balutan kudung yang bersih
patik lihat orang sakaw
jauhlah panggang dari api

patik sadar, patik tahu
bahwa tiadalah anak dapat berkehendak
dalam tiran kutukan lalu
abadi terlekat dalam raga jiwa

patik tahu, patik sadar
bahwa diri sudah tak lagi bau
mohon parik, parik pudar
kehendak patik tak lagi baru

tak perlulah mengoceh banyak
patik sudah punya dua telinga
cukup mencerna kata yang terserak
muak penuhi dua telaga

cukup, tolong cukup
basa-basi tak lagi perlu
lidah kelu, tulang menelungkup
mambuang sampah telinga yang lalu


*NB:
akhirnya patik tahu, patiklah yang salah
maafkan aku, ibuku

Yang Pergi dan Tak Kembali



langit tak lagi cerah berulir
dan angin yang berembus mengalun
telah habis tergantikan
soak tekak memohon ampun

kepercayaan akan sesosok bayang
yang akan datang dibalik kelokan
dalam cerita tentang kasih sayang
dan cinta yang berkepanjangan

bayang hangat akan pelukan
dan sejuk yang tak berbilang
ku coba menggapai dalam kekosongan
memanggil hingga pedih kerongkongan

kini telah berakhir sebuah cerita
dibalik cadas karang penyesalan
akan dirimu ibuku
kini terlalu jauh untuk kucapai

waktu yang habis
dan detik yang berhenti berdetak
bersisa penyesalan
akan bayang di kelokan jalan


Kenangan Senyum


Biarlah angin membawa
Karena ku percaya
Alunan mimpi kan jadi nyata
Rinduku tak berakhir percuma

Biarlah air melaju
Karena khayal tak lagi palsu
Harapanku tak setinggi langit biru
Hanyalah do’a ku jahit sembilu

Karena asa ku bertahan
Mencoba memohon memanjatkan
Sebuah tetes harapan
Dari embun kedamaian
Dipagi terkhir kita bersua

Petangku telah datang
Sela lelah ku telah hilang
Jauh diufuk surya
Menanti tibanya senja

Pena telah merangkai goresan selang
Malam tiba tunda yang benderang
Jauh ku lihatlah sosoknya
Berbayang dikelokan seberang sana