Rabu, 07 Januari 2015

Monolog Kecil Untukmu


Kamis, 8 agustus 2014, 01:45
Sebuah kata menunggu dalam relung rindu. Tak tahukah kau? Kemana akan kembali berpulang rasa tersebut? Hanya ada kata yang tersimpan dalam dasarnya perasaan yang tak tersampaikan, sebagai sebuah potongan hidup yang terpilih dari berseraknya mozaik-mozaik yang  telah dilangkahi. Akankah kita kembali? Kepada kenangan yang berpendar dalam remangnya bulan, menunggu pelukan yang sama atas jawaban yang sama, atau sebuah kerling yang menjawab segalanya. Pepatah tak akan pernah salah bagi kita yang memepercayai benang takdir, selalu akan terus terhubung dalam kepastian karena kepercayaan adalah pengikat sejati baginya.

Sedang apa kau dalam mimpimu? Tanya sepi yang mengarungi dinginnya malam. Kerana aku tak tahu selain desing kipas usang yang membasahi ruang juga hati yang berdebar dalam masa yang ditunggu. 6 tahun sudah, kini ganjil telah tergenapkan, namun rasa tetap tak terucapkan. Apakah kau akan menerima jika ketidakpastian dijadikan kambing hitam? Semoga…..

Malam makin panjang, jadi gila kerana kubicara pada papan ketik yang berirama sepotong-sepotong seumpama lagu ini, the ballade pour adelaine kan kah kau suka? Hahaha. Seumpama kau yang terus menangis dalam relung rembulan, tak pernah dapat kusentuh, selain hampa yang kudapat. Aku memang tak berani, bagimu terutama bagiku yang memang tak akan berani bikin janji. Ketidak pastian itu temanku bukan?

Sepanjang masa yang telah terlewat, semoga lekas, kita akan kembali berbicara kepada mentari sebagaimana yang kerap terbayangkan. Sudikah kau? Pertanyaaan yang tek pernah dapat terjawab lagi sekarang. Semoga,dan semoga lah yang selalu akan kuucapkan padamu untuk hari depan, ketika kita tak tahu siapakah dan untuk apakah saling memiliki itu.

Monolog kecil inilah tempat kata bisa mengalir begitu saja, putri embunku. Tak ada yang meminta, kecuali hasrat untuk berbicara. Tak ada yang mendengar, kecuali sunyinya malam berbintang. Tak ada yang melihat, kecuali mata sayu akan harapan dan Yang Melidunginya. Semoga. Selamat berbaring kembali dalam tidurmu, semoga malam tak akan memudar cerahnya kala melihatmu menutup mata, memilingkan indahnya gemintang saat ini kepada mimpimu, membiarkan bulan yang menyauhkan mimpiku kepada bunga-bunga dalam tidurmu. Selamat malam.